PART
3
“Jeongsuk-ssi.
Ah,Jeosonghamnida. Lee Taepyeonim,kenapa harus aku yang membuat lagu untuk
mereka?”
“Richan,aku
mempercepat debutmu. Kau tidak ingin ? walaupun itu hanya acara tahunan SWE,salah
satu dari Kai atau Eunhyuk akan menyanyikan lagumu,dan dengan begitu kau sudah
debut menjadi penulis lagu.” Lee Taepyeonim memperjelas.
“Taepyeonim,kenapa
harus Kai? Kau tahukan masalahku dengannya.”
“Dengan cara ini
kau bisa dekat dengannya. Richan,ini masih lama. Kau hanya harus fokus pada
pembuatan lagumu,okay?” Richan akhirnya menerima dengan berat hati. Di lain
pihak ia juga senang,bagaimana tidak? 1 bulan lagi ia akan debut!
“Hmm,aku akan
berusaha dengan maksimal Taepyeonim.”
“Hm,pergilah.
Trainee lain akan salah sangka jika kau terlalu lama berada disini. Kai dan
Eunhyuk,aku akan memberitahukan padanya secara pribadi masalah ini.”
Richan berdiri lalu
ia membungkukan badannya,ia pergi dari ruang ini.
*
Semua Trainee sore
kali ini,karena sekarang adalah hari sabtu. Dan besok juga adalah hari
libur,mereka bisa melakukan apa saja untuk Weekend.
Richan mengusapkan
obat jel pada bagian perutnya yang sedikit melepuh. Ia mengambil buka catatan
dan pulpen dari mejanya,Richan keluar dari kamar dan pergi ke atap asramanya.
Ya,siapa tahu ia bisa mendapatkan inspirasi dengan menghirup udara segar.
Ia duduk di bangku
dan melihat hamparan gedung pencakar langit,ia menghirup udara segar sebanyak
yang ia bisa. Menenangkan dirinya.
Richan menaruh buku
dan pulpen di sampangnya, ia memasangkan earphone di telinganya dan
mendengarkan beberapa lagu miliknya yang sempat ia buat sebelum ia menjadi
Trainee. Lagu yang berjudul The story of our live karangan Richan dan kedua
orangtuanya saat ia berumur 15 tahun. Ia sangat menyukai lagu itu!
Eunhyuk datang
entah dari mana asalnya,Ia melihat Richan yang sedang hanyut dalam lagu yang ia
dengarkan. Eunhyuk duduk disampingnya.
“Lagu apa yang kau
dengarkan?” Pertanyaan itu tentu saja mengagetkan Richan dari dunianya.
“Hm,lagu yang bisa
di dengarkan.” Jawab Richan dengan dingin.
“YA! Aku bertanya
baik-baik! Kau tidak tahu siapa aku,Kyuhyun dan Kai. Tapi bagaimana bisa kau
mendengarkan orang lain? Kau pasti hanya berpura-purakan?” Tuduh Eunhyuk dengan
sengaja.
“Nyatanya memang
aku tidak mengenal kalian! Ini lagu ciptaan aku dan kedua orangtuaku,kau puas?”
“Ah,Mianh! Aku
tidak tahu. Kau belum bersiap-siap? Kau harus menulis lagu untukku dan manusia
itu. Bagaimana bisa kau masih santai saja disini? Aku tidak mau menyanyikan
lagu dadakan,kau harus ingat itu!”
“Manusia itu? Wae?
Kau juga punya masalah dengannya?” Tanya Richan penasaran.
“Oh,aku teman
sekolah dasarnya. Dan kami selalu bertengkar.” Jawab Eunhyuk. Ia mengambil
handphone milik Richan,mengetik sesuatu dan menaruhnya di dekat telinga
kanannya.
“Masalah apa?
Bagaimana bisa masalah bertahun-tahun lalu bisa terbawa sampai saat ini? Apa
kalian saling balas dendam? Ceritakan padaku!”
“Kau tidak perlu
tahu,aku sekarang mendapatkan nomor telefonmu!” Eunhyuk menunjukan layar
handphone kepada Richan.
“YA! Kau semakin
membuatku penasaran!” Richan meledak dan berdiri dengan tegak di hadapan
Eunhyuk, “Tak masalah jika kau tidak mau membertahuku,aku pergi.” Richan
mengambil Handphone serta buku dan pulpennya dan pergi dengan sedikit amarah.
“YA! Kenapa kau
pergi?” Eunhyuk sedikit berteriak.
“Sebentar lagi
malam! Aku tidak mau ada di luar…” Ucapnya kemudian pergi.
*
Richan terus
berputar kebingungan,ia perlu tahu banyak hal tentang Kai. Ia sudah mencari
banyak fakta tentang Kai,tapi tidak semuanya benar bukan?
Richan mengambil
beberapa barang dan membuka pintu kamar,ia melihat kekanan dan kekiri,sepi.
Semua Trainee pasti sedang berjalan-jalan karena ini malam minggu,semoga saja
Kai tidak.
Richan mengetuk
pintu,ia berharap semoga Kai akan membukakan pintu untuknya. Seseoraang
berjalan,Kai membuka pintu,keduanya saling bertatapan. Kai langsung menutup
pintu namun dengan cepat Richan menahan dengan kakinya sehingga pintu tidak
bisa tertutup sempurna.
Kai berusaha
menutup pintunya lagi,Richan berteriak “AWWH!” Kai terkejut dan melonggarkan
pintunya,saat itu tidak di sia-siakan. Richan segera masuk dengan paksa.
“YA! Kau melanggar
aturan norma! Tidak boleh berada dalam kamar Trainee lain lawan jenis,dan kau juga
mengganggu kehidupan Trainee lain!” Kai angkat bicara.
“YA! Ini demi
lagumu,kau harus menolongku beberapa hal!” Richan meminta.
“Dan kau juga
meminta bantuan Senior untuk tugasmu sendiri!” Kai marah,ia benar-benar tidak
mood untuk saat ini. Ia mengeluarkan handphone dari saku celananya,”Aku akan
mengadukan hal ini pada Taepyeonim!” Kai berusaha untuk mengancam.
Richan menaruh
peralatannya di atas meja dan duduk di lantai,ia mengeluarkan handphone. “Tidak
usah repot-repot,aku akan menelfonya…” Richan melakukan sebuah panggilan,”Yeoboseyo,Taepyeonim.”
Ia menggunakan loadspeaker.
“Ne,Richan
ada apa?”
“Aku akan menulis
lagu yang di tugaskan olehmu,dan sepertinya aku akan melakukan beberapa
pelanggaran sebagai Trainee seperti masuk ke kamar Trainee lain,mengganggu,dan
sedikit meminta bantuan terhadap Kai. Apa untuk saat ini aku diizinkan?”
“Hm,tentu
saja! Kau harus mendalami perasaan dan lagu apa yang mereka inginkan.”
“Geurom,Gamsahamnida,Taepyeonim.”
Richan menutup sambungan telefonnya. “Kau sudah mendengar sendirikan?” Richan
memperjelas.
“YA! Richan-ah,tapi
kau—“
Richan berdiri dan
segera meminta maaf,”Sebelumnya aku ingin meminta maaf soal kejadian sebelumnya.
Dan sebagai penulis lagu senior setidaknya kau harus memberiku beberapa
arahan.”
“Dengar,aku akan
memperlakukanmu sebagai Seniormu. Tapi permintaan maafmu,tidak kuterima!” Kai
duduk di lantai depan Richan.
Richan tersenyum
kemudian duduk kembali,”Hm,sebagai awalan. Aku akan melakukan beberapa
wawancara. Lagu apa yang ingin kau nyanyikan?”
“Lagu yang bisa
membuatku menang melawan Eunhyuk!” Kai menjawab dengan tegas.
“Aish,kau memiliki
masalah dengannya? Dia temanmu,kau harus memaafkannya!” Richan memasehati.
“Kami selalu
membuat masalah dan aku tidak pernah menganggapnya TEMAN!” Richan
tertegun,sekasar itu Kai sampai mengatakan hal seperti itu? Masalah besar apa
yang sebelumnya terjadi?
“Ah,aku punya ide!”
Richan mengangkat tangannya keatas,Kai menatapnya.”Bagaimana jika aku membuat
lagu sindiran tentang kau untuk Eunhyuk? Agar ia bisa merasa bersalah?
Bagaimana menurutmu?”
”Pabo!” Dengan
telunjuknya Kai mendorong dahi Richan dengan pelan tanpa di sengaja. Entah
darimana perasaan itu berasal? Kai berdehem menyembunyikan agar tindakan yang
baru saja di lakukan adalah refleks. “Kau ingin membuat lagu Sindiran? Lalu
bagaimana dengan Eunhyuk? Kau ingin membuatkan lagu balasan sindiran,seperti
itu?”
“Ah,ye. Aku lupa.” Richan
menunduk malu. “Geundae,Kai hasrat seperti apa yang kau rasakan ketika lagumu
menang Daesang?” dua jam berlalu. sama seperti sebelumnya,Richan terus
menginterograsi Kai dengan Ribuan pertanyaan.
Keduanya,Kai maupun
Richan merasakan haus di tenggorokannya. “Kai,obess-si apa yanghh. Ekhem!”
terasa kering dan sakit pada tenggorokan Richan.
Kai merasa
tersendir dengan deheman itu. Ia lupa bahwa sejak dua jam yang lalu Ia belum
memberi richan setetes minumanpun,”Ekhem, kau ingin minum apa? Biar aku
ambilkan.” Kai berdiri dari tempatnya.
“Hm,air mineral
saja.” Jawab Richan. Kai pergi dan kembali setelah beberapa saat dengan dua
gelas air dingin. Kai menaruh keduanya diatas meja,”Kai,kau tidak ke dapur
asrama? Kau memiliki dapur di dalam kamarmu?” Tanya Richan penasaran. Jelas
saja,sebagai Trainee jika ingin makan dan minum ia harus kelantai dasar dulu.
“Aku sudah hampir
satu tahun debut,tentu saja fasilitas yang aku miliki berbeda dengan milikmu.
Dan aku juga lima besar di Gaon,Melon dan Hanteo.” Keduanya mengambil gelas dan
minum,tenggorokan lega mulai sekarang.
”Jam berapa
sekarang?” Gumam Richan,ia menyalakan handphonenya dan menunjukan pukul 21.00
malam,beberapa Trainee pasti sudah pulang. Richan menaruh kembali handphonennya
di bawah meja. “Kai,kurasa aku sudah mengetahu banyak hal tentangmu. Aku bisa
menulis lagu besok.”
“Mwo?” Kai
terkejut,”Kufikir kau akan menulis lagu sekarang.”
“Ini sudah terlalu
malam,”Richan menjelaskan,”Geundae,a-apa lukamu sudah cukup…membaik?” Richan
bertanya perlahan. Rasa sakit di kulit tubuhnya sudah hamper hilang,tinggal
luka saja yang masih membekas.
Kai
tersadar,”MEMBAIK? Aku di siram dengan latte yang masih mendidih! Oh,tubuhku
benar-benar terasa sakit sampai sekarang. Mungkin saja ini akan menyisakan
bekas,bagaimana? Aku tidak bisa memamerkan tubuhku saat album ketigaku nanti!”
Kalimat-kalimat itu sengaja di lebihkan agar Richan merasa bersalah.
“Benarkah? Apa
masih membekas?” Richan tidak percaya.
“Kau tidak percaya
padaku? Kau ingin melihat bekas lukanya?” Kai menantangnya.
“Seharusnya
bekasnya tinggal sedikit,hmm…” Richan mendekat dan mendorong tubuh Kai hingga
Kai jatuh kebelakang,jarak mereka sangat intim. Tak sadar keduanya saling
bertatapan satu sama lain.
“Y-YA! A-apa yang kau lakukan?” Kai di buat kaget oleh gerakan agresif Richan.
Tubuhnya seolah kelu di buatnya,ini pertama kalinya Kai di perlakukan seperti
ini. Berani sekali Richan itu.
“Kau bilang aku
boleh melihatnya.” Jawab Richan dengan santai,Richan membuka sedikit kaos yang
di pakai Kai dan memperlihatkan sedikit bagian tubuhnya. Richan menatapnya
nanar,”Ternyata separah ini lukanya…”
Dengan sekuat
tenaga Kai membalik mendorong Richan sampai ia terjungkal ke belakang,Kai
berdiri dan berkacak pinggang.”S-sudah kukatakan sebelumnya luka ini cukup
parah. Dan kau tidak tercaya!”
Richan membetulkan
posisi tubuhnya duduk dengan tegap,”Kau mengatak sebelumnya lukamu masih terasa
sangat sakit,bukan cukup parah!” Kai tidak bisa berkutik sekarang. Richan menaruh
sesuatu di atas meja. “Ini,pakailah ini dan lukamu akan membaik dalam satu
minggu!” jawabnya jutek,Richan mengambil beberapa peralatannyayang berada di
atas meja dan berdiri untuk pergi.
“YA! Kau mau
kemana?!” teriaknya.
“Ini sudah
malam,aku harus pergi.” Jawabnya tanpa menatap Kai. Richan berjalan dan membuka
sedikit pintu,ia menengok ke kanan dan kekiri,tidak ada orang. “Terima kasih
untuk minumannya,Gamsahamnida.” Richan membungkukan tubuh dan pergi.
Richan kembali ke
kamarnya dan memasukan peralatan yang ia bawa tadi kedal tas. Di lain tempat,
Kai merasa telah di bodohi oleh Richan,ia merasa tubuhnya telah ternodai, dan
ia tidak habis pikir dengan sikap Richan yang semena-mena.
Kai menghela
nafasnya dan mengambil kedua gelas untuk di taruh di tempat cucian kotor, lalu
kembali dan mendorong tata meja,tunggu-tunggu…
Kai duduk di dekat
meja,ia mengambil sesuatu. Itu Handphone milik Richan yang tertinggal. Kai
duduk di sofanya dan mengutak-atik sebentar handphone milik Richan,untungnya
Richan tidak memberikan password sehingga mudah bagi Kai untuk mengaksesnya.
Kai terjaga sampai tengah malam hanya untuk melihat isi handphone milik orang
lain.
*
Semua Trainee sudah
berada dalam bus,supir mulai mengemudikan busnya. Richan duduk dengan Eunhyuk
di kursi belakang nomor dua,dan Kai duduk dengan Trainee lainnya di kursi
dengan lima orang.
Kai memperhatikan
gerak-gerik Richan sedari tadi,ia tidak merasakan keraguan,kegundahan atas
sejenisnya. Apakah ia belum menyadari bahwa Handphone miliknya tidak ada
bersama dirinya?
Semuanya turun dari
bus dan ke ruang rehersal masing-masing. Richan duduk seperti biasa,di kursi
keyboard sendirian. Sedangkan para Trainee lainnya berlatih bersama-sama. Richan
mulai menulis lirik lagu.
Kai melirik kekanan
dan kekiri,sepertinya aman. Kai mengetuk pintu dua kali lalu masuk tanpa izin
seperti biasanya. Richan langsung berdiri dan membungkukan tubuhnya,”Wah,kau
mulai mengerti tentang kode etika Trainee.”
“Kenapa kau berada
disini,Kai Sunbaenim?” Richan bertanya,”Tidak baik bagiku jika kau berada
bersamaku saat ini,terlebih ketika aku sedang membuat lagu.” Richan hanya
mencoba menyelamatkan dirinya. Sebelum terlambat,sebelum mereka tertangkap
basah oleh Trainee lain dan muncul berbagai gossip.
“Huhh,” Kai
membuangnafasnya. “Kai tidak menyadari sesuatu? Kau tidak merasa kehilangan?”
Kai menyelidik.
“Kehilangan?”
Richan berfikir sejenak,Ia kemudian mengambil tasnya dan memeriksa sesuatu.
“Ah! Handphoneku,aku kehilangan handphoneku.” Akhirnya gadis itu sadar.
Lihatlah,betapa bodohnya dirinya.
“Bodoh!” Kai
melemparkan Handphone begitu saja,Richan segera menangkapnya dengan nafas
terengah. Bayangkan saja,itu Handphone yang baru saja di lempar. “Lain kali kau
harus lebih hati-hati.”
“Huhh,kau juga
tidak sadar apa yang baru saja kau lempar! Bagaimana jika jatuh? Memang kau mau
menggantinya?” Richan menuntut.
“Aku memasukan nomorku
di dial call nomor satu. B-beritahu aku jika kau sudah selesai membuat lagumu…”
Ucap Kai kemudian membalikan tubuhnya pergi. Richan segera menundukan kepalanya
dan kembali pada tugasnya.
*
Kembali seperti
malam sebelumnya,Richan pergi ke kamar Kai. Kali ini ia sudah menulis lirik
lagunya,jika seusai dengan keinginan Kai,Richan hanya tinggal membuat nadanya.
Richan memberikan
hasil kerjanya pada Kai,ia membacanya dengan teliti. Jelas saja,lagu ini adalah
senjatanya untuk mengalahkan Eunhyuk,dan juga jika ia menang,dalam satu tahun
ia bisa mengeluarkan single pertamanya setelah album debutnya beberapa bulan
yang lalu.
“Pada lirik don’t you remember menurutku kurang
begitu pas,bagaimana jika di ganti dengan yes,I
can remember. Bagaimana?” Kai mengoreksi. Hubungan keduanya cukup
membaik,hanya saja terkadang Kai bersifat kekanak-kanakan. Kembali kepada
dirinya dingin saat di tempat pelatihannya,dan berubah menjadi sosok hangat
jika sudah berada di asrama.
Richan berfikir
sebentar,”Menurutku tidak buruk…”
Sentilan ringan
akhirnya jatuh pada dahi Richan,”Aku seorang penulis lagu dan penyanyi!
Beberapa bulan setelah debut,aku langsung mendapatkan Daesang untuk tahun ini! Tentu
saja tidak buruk.” Kai memuji dirinya sendiri,”Seharusnya aku saja yang membuat
lagu untuk diriku sendiri.”
Richan berdecak
kesal,ia berdiri dan berjalan kearah keyboard tak jauh darinya. “Bantulah aku
untuk memindahkan ini,Palli!” Suruhnya dengan sedikit kasar.
“YA! Mengapa kau
harus bersusah payah memindahkan? Buat saja iramanya disana!” Kai kembali
berkicau.
“Aish! Palliwa!
Akan sulit bagiku,bagaimana jika hasilnya jelek? Bagaimanapun itu juga akan
mempengaruhi masa depanmu…” Ia mulai beralasan. Kai mau tak mau berdiri,ia
membantu Richan memindahkannya di atas
meja. Keduanya duduk kembali.
Satu jam berlalu.
Kembali kepada
sosok Richan yang bekerja keras tak kenal henti,waktunya berlalu hanya untuk
membuat nada. Richan terus mencoba dan mencocokan dengan lirik yang di
buatnya,sesekali ia berfikir bagaimana nada yang harus ia ambil? Sebuah lagu
yang mampu untuk mengalahkan yang lainnya,tak boleh ada salah sedikitpun dan
harus mendekati kata sempurna.
Kai merasa bosan,ia
juga tidak mau membantu musuhnya itu. Itu tugasnya,walaupun masa depan dan
harga dirinya berada di lagu itu,Kai berusaha mempercayai gadis di depannya
itu. Kai memanjangkan tubuhnya di sofa dengan handphone di tangannya,sementara
Richan duduk di lantai berlapis tikar. “Ini sudah jam 8.00 malam,kita harus
bangun untuk pelatihan besok.”
“Tidak bisa.aku
harus menyelesaikannya setidaknya setengah lagu.” Baru beberapa not balok yang
ia tulis,lagi lagi Richan menghapusnya dan menggandi dengan not balok yang
lain.
“Kau bisa
mengerjakannya di kamarmu,ini cukup berisik di telingaku.” Sebenarnya tidak
masalah bagi Kai,ia hanya mencoba untuk mengganggu Richan. Lihat saja,gadis itu
terlalu serius pada pekerjaannya,dan Kai sudah bosan sejak satu jam yang lalu.
“Aku baru di rekrut
beberapa minggu yang lalu,Taepyeonim belum memberikanku fasilitas
pribadi,berbeda denganmu.” Seolah mengabaikan,Richan tetap berfokus pada
pekerjaannya.
“Kalau begitu
berhenti dan kerjakan esok hari di ruang pelatihan…”Kai menyarankan.
“Resikonya
berat,bagaimana jika aku lupa ide-ide untuk esok. Otakku sedang penuh dengan
not-not balok di otakku,aku hanya perlu mencobanya satu persatu dan mencocokan
yang pas.” Richan berteguh pada dirinya,”dan akan menyenangkan bagiku jika kau
tidak menggangguku saat ini.”
Pukul 20.30 malam.
“Hoaaamm,” Kai
menguap,”Ini sudah malam. Aku ingin tidur…”
====TBC====