Drama adat, naskah drama adat daerah drama cerita rakyat, drama malin kudang, drama siti nurbaya.
Pemain :
Siti
Nurbaya
Malin
Kundang
Datuk
Maringgih
Ibu Malin
Kundang
Baginda
Sulaiman
Anak
Siti-Malin.
Malin : “Mati sajalah aku ini. Hidup susah
bertahun-tahun,apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan uang yang banyak?”
(Bersenandung di sore hari.) Malin Kundang berfikir, “Apalah aku harus
Merantau? Bagaimano dengan Bundo yang sendirian jika ku tinggal pergi
berkerja?”
Hari menggelap,Malin masuk ke dalam rumahnya…
Malin : “BUNDOOO! BUNDOO! DIMANA ENGKAU?”
(Berteriak)
Bundo : “Bundo disini,Nak. Ada apo berteriak-teriak
saparti itu dalam rumah?”
Malin :
“Bundo,aku ingin pergi ke Jakarta untuk merantau. Izinkanlah aku bundo,untuk
mencari istri dan bekerja disana.” (Belutut di hadapan Bundo)
Bundo :
“Malin,apa kau yakin ingin Merantau,Nak? Bundo akan sendirian disini. Namun kau
sekarang sudah besar,kau boleh mencari jalan hidupmu sendiri,Nak.”
Malin : “Terima kasih,Bundo! Aku akan mengirimkanmu
surat dan kembali kesini dengan uang yang banyak serta gadis yang cantik
nanti…” (Memeluk Bundo)
Pagi hari.
Malin membawa pakaian yang sudah di karungi.
Malin : “Bundooo,jangan lupakan aku bundo.
Ingatlah terus anakmu ini…”(Malin berteriak sambil menangis)
Bundo : “Malin,ingatlah pesan-pesan Bundo! Jangan
sampai kau kembali dengan kekayaan namun kau menjadi anak yang durhaka!”
Malin : “BUNDOOO! SAMPAI JUMPA ,BUNDOOO!”
(Berteriak saat perahu berlayar pergi.)
Di Pasar.
Baginda :
“Dibeli,dibeli,dibeli. Beli dua gratis satu,beli satu gratis dua,beli dua dapat
tiga!” (Pedagang menjajakan barang dagangannya.)
Bundo : “Beli kain ini berapa satunya?” (Raut muka
suram)
Baginda : “Matahari masih bersinar terang dan masih
pagi sekali kenapa wajah Bundo terlihat seperti orang yang baru tertimpa
masalah?”
Bundo : “Bukan bergitu,Baginda. Anakku Malin pergi ke
Jakarta untuk Merantau. Bagaimana aku tidak bersedih?”
Baginda :
“Jadi seperti itu,Bundo. Agar kau tidak bersedih,kau akan kuberikan diskon
besar-besaran. Jika kau membeli dua kain ini akan kuberikan tiga untukmu…”
Bundo :
“Kau ini memang begitu! Harganya 40 ribu bukan? Karena kebaikanmu,akan kuberi
kau uang 20 ribu dua lembar. Dan ambil saja kembaliannya agar kau semakin
kaya,Baginda Sulaiman.”
Baginda : “Ah,kau ini membuatku malu saja. Aku tak
perlu menjadi lebih kaya lagi. Mempunyai rumah,sawah dan penghasilan dari
pedangang di pasar milikku ini sudah cukup bagiku.”
Bundo : “Kalau begitu terima kasih,Baginda.” (Pergi
untuk pulang)
Datuk Maringgihpun datang…
Maringgih
: “Baginda-Baginda!” (Berteriak memanggil)
Baginda : “Aku
disini,Datuk Maringgih! Ada apa berteriak seperti itu?”
Maringgih
: “Ini gawat,Baginda. Aku mendengar bahwa beberapa Saudagar dan Pedangang
terjebak di tengah laut. Aku harus segera pergi dengan perahumu untuk membantu
mereka.”
Baginda : “Benarkah? Tapi Perahuku sangat besar,Maringgih.
Aku membuatnya dengan mengumpulkan uang selama 10 tahun. Memangnya apa yang
membuat mereka terjebak?”
Maringgih
: “hm…hm…Kudengar,ada dua gurita raksaksa di laut. Jadi para Saudagar berusaha
melarikan diri,namun mereka terjebak. Gurita itu sangat besar,sebesar rumahmu!
Dan bisa menghancurkan apa saja di sekitarnya,bagaimana jika gurita itu sampai ke pasar milikmu ini? Semua
dagangan,anak-anak bisa hilang karenanya.” (Berbohong)
Baginda :
“Bisa gawat kalau begini! Maringgih,pergilah bersama teman-temanmu untuk
membunuh Gurita raksaksa itu! Aku akan memberikanmu uang yang sangat banyak
untuk membujuk teman-temanmu agar membunuhnya! Kau bisa langsung pergi dan aku
akan segera memberitahukan berita ini pada Istri dan anakku!” (Pergi berlarian
ke rumah)
Maringgih
: “HaHaHa! Mudah sekali kau di
tipu,Baginda! Aku akan mengambil uang dan menjual kapalmu kepada orang
lain…HaHaHa!” (Tertawa jahat)
Di Hutan.
Maringgih datang menemui Siti Nurbaya.
Maringgih
: “Matahari sudah mulai terbenam,kenapa kau masih disini Siti Nurbaya?”
(Mencoba menarik perhatian)
Nurbaya :
“Biarkan saja,Datuk Maringgih. Aku juga akan pergi sebentar lagi!” (Merasa
tidak nyaman)
Maringgih
: (Mencoba memegang tangan Nurbaya)
Nurbaya :
“Apa-apaan kau ini! Mencoba berdekatan
denganku,kau ini hanya teman dari Ayahku saja,Maringgih!” (Marah)
Maringgih
: “Kenapa kau seperti itu,Siti Nurbaya? Aku mencintaimu,bahkan aku rela
melakukan apa saja agar kau mau menikah denganku!”
Nurbaya :
“Melakukan apa saja?” (Berfikir) “Kau harus menjadi Saudagar yang sangat Kaya
Raya,kau juga harus membuktikan padaku kalau kau merupakan Pria yang
pemberani!”
Maringgih
: “Kaya dan Pemberani? HaHaHa! Aku akan membuktikan padamu,Siti Nurbaya!”
(Nurbaya pergi karena ketakutan)
Dua hari kemudian…
Maringgih menyuruh anak buahnya untuk menghancurkan pasar milik
Baginda Sulaiman di malam hari. Semua Dagangan milik Pedangang hancur dan tidak
bisa di gunakan lagi seperti terkena bencana. Anak buah Maringgih mulai mengadu
domba,ia menyuruh para Pedang untuk menuntut ganti rugi kepada Baginda,fitnah
tersebar. Pasar milik Baginda ditutup untuk sementara,Baginda Sulaiman harus
membuka sisa kantung uangnya kepada para pedangang untuk mengganti rugi.
Hanya harta,rumah serta anaknya yang dimilikinya. Hutang belum
sepenuhnya terbayar,Mau tak mau Baginda Sulaiman harus menjual pasar miliknya.
Datuk Maringgih kembali dengan pakaian seadanya,tubuhnya juga
kotor dan basah.
Maringgih
: “Baginda! Baginda! Aku dan Awakku berhasil membunuh Gurita raksaksa itu.
Namun aku tidak bisa menyelamatkan perahumu,dan sejumlah uang yang kau berikan
telah aku berikan kepada Saudagar untuk meminta maaf. Maafkan aku,Baginda.”
Baginda :
“Tidak apa-apa,sekarang aku sudah bukan Baginda lagi,Maringgih. Aku telah
kehilangan seluruh pasar dan kekayaanku…”
Maringgih
: “Benarkah? Bagaimana bisa?”
Pedagang :
“BAGINDAA SULAIMAN! KAU HARUS MENGGANTI KERUGIANKU SEBESAR DUA JUTA,ATAU AKU
AKAN MENYURUH PENDUDUK UNTUK MEMBONGKAR RUMAHMU!”
Baginda :
“Apa yang harus aku lakukan? Maringgih,bolehkah aku meminjam uangmu? Aku akan
menggantinya nanti…”
Maringgih
: (Tersenyum) “Tentu saja,Baginda kau bisa membayarkannya kapan saja!”
Baginda :
(Mengambil uang) “Ambillah uang ini,Pedagangku.”
Pedangan itu pergi setelah mendapatkan apa yang ia inginkan. Baginda
sangat senang karena Maringgih telah menyelamatkan hidupnya. Hari-hari
berlalu,Baginda selalu meminjam uang pada Maringgih untuk membeli makan untuk
dirinya dan Siti Nurbaya. Satu bulan kemudian.
Maringgih
: “Baginda,maafkan aku! Ini sudah satu bulan lebih,kau belum sedikitpun
membayar hutangmu. Bundo sakit dirumah,aku butuh uangmu untuk membayar
obatnya.”
Baginda :
(Berlutut) “Tapi Maringgih,aku belum memiliki uang untuk membayar hutangmu… aku
akan melakukan apa saja untukmu.”
Maringgih
: “Kalau begitu serahkan Siti Nurbaya padaku! Aku akan menikahinya dan
membiayai kehidupannya! Lagi pula hutangmu akan kuhapuskan,karena kau sudah
menjadi Ayahku saat aku menikahinya nanti.” (Terdengar oleh Nurbaya)
Nurbaya :
“TIDAKKKK! Jangan lakukan itu! Aku tidak ingin menikahi orang sepertinya,Ayah!”
Baginda :
“Maafkan aku,tapi tidak ada cara lain selain ini,Anakku…”
Siti Nurbaya menangis. Besok adalah hari pernikahannya dengan
orang yang tidak di inginkannya. Ia memikirkan cara lain. Ia mengambil sarung,baju-bajunya ia masukan
dan ia ikat. Nurbaya berniat untuk melarikan diri dengan kapal. Tak lupa ia
meninggalkan sepucuk surat untuk Ayahnya.
Keesokan harinya…
Pesta megah telah di gerai,kediaman Siti Nurbaya menjadi sangat
ramai. Baginda pergi dan mengetuk pintu kamar Nurbaya, betapa kagetnya ia
setelah membaca surat bahwa Nurbaya melarikan diri karena tidak ingin menikah.
Baginda Sulaiman harus menahan malu yang ia rasakan. Maringgih
menjadi geram,ia mengutus anak buahnya untuk mencari keberadaan Siti Nurbaya.
Jakarta.
Malin Kundang sudah sukses menjadi Saudagar di Ibu kota,ia bertemu
dengan Nurbaya di pelabuhan.
Malin :
“Gadis sepertimu bagaimana bisa berada disini dengan pakaian kotor seperti
itu?”
Nurbaya :
“Maafkan aku Saudagar,aku melarikan diri dari kampong halamanku di Minang.”
Malin : “Minangkabau? Aku juga berasal dari
sana. Aku merantau kesini,dan satu bulan lagi aku harus pergi kembali kesana
untuk bertemu dengan Bundo.”
Nurbaya :
“Kau sangat beruntung sekali. Namaku Siti Nurbaya.”
Malin :
“Siti Nurbaya,kau bisa tinggal di rumahku. Ada kamar kosong disana yang bisa
kau tempati.” (Membawanya pergi)
Sudah sebulan Malin mengenal Nurbaya,keduanya merasakan perasaan
yang sama. Malin melamar Nurbaya untuk menikah dengannya,Malin adalah
penyelamat bagi Nurbaya. Keduanya setuju untuk menikah di Minangkabau daerah
asalnya.
Datuk Maringgih memperbudak para pedang,Ia bersifat kasar dan
sangat di takuti. Semenjak kepergihan Nurbaya,ia sekarang menjadi orang yang
sangat sibuk.
Pesta Pernikahan di gelar,Karena kesibukannya Datuk Maringgih
belum tahu akan berita ini.
Nurbaya dan Baginda Sulaiman pergi ke kediaman Malin untuk
melakukan Maresek.
Maresek merupakan penjajakan pertama sebagai
permulaan dari rangkaian tata-cara pelaksanaan pernikahan. Sesuai dengan sistem
kekerabatan di Minangkabau yaitu matrilineal, pihak keluarga wanita mendatangi
pihak keluarga pria. Lazimnya pihak keluarga yang datang membawa buah tangan
berupa kue atau buah-buahan.
Nurbaya :
“Bundo,Aku mencintai anakmu Malin. Kami sudah saling mengenal sejak satu bulan
yang lalu. Aku meminta izinmu untuk menikahi anakmu.” (Bersujud)
Bundo :
“Jika kalian saling mencintai,Bundo tentu saja mengizinkan kalian untuk
menikah.”
(BABAKO-BABAKI)
Pihak keluarga dari ayah calon mempelai wanita
(disebut bako) ingin memperlihatkan kasih sayangnya dengan ikut memikul biaya
sesuai kemampuan. Acara ini biasanya berlangsung beberapa hari sebelum acara
akad nikah. Mereka datang membawa berbagai macam antaran.
Baginda :
“Saya juga akan ikut membiayai pernikahan mereka,jadi sebelumnya. Hanya ini
yang bisa saya antarkan…” (Memberika beeberapa macam antaran)
Bainai berarti melekatkan tumbukan halus daun
pacar merah atau daun inai ke kuku-kuku calon pengantin wanita. Lazimnya
berlangsung malam hari sebelum akad nikah. Tradisi ini sebagai ungkapan kasih
sayang dan doa restu dari para sesepuh keluarga mempelai wanita.
Bundo
melalukan Bainai. Karena Nurbaya sudah tidak memiliki ibu,akhirnya ia yang harus
membuat Banai pada punggung dan kuku tangan Nurbaya.
MANJAPUIK MARAPULAI
Ini adalah acara adat yang paling penting
dalam seluruh rangkaian acara perkawinan menurut adat Minangkabau. Calon
pengantin pria dijemput dan dibawa ke rumah calon pengantin wanita untuk
melangsungkan akad nikah. Membawa beberapa makanan dan di taruh di atas kepala
warga sekitar.
PENYAMBUTAN DI RUMAH ANAK DARO
Tradisi menyambut kedatangan calon mempelai
pria di rumah calon mempelai wanita lazimnya merupakan momen meriah dan besar.
Diiringi bunyi musik tradisional khas Minang yakni talempong dan gandang tabuk,
serta barisan Gelombang Adat timbal balik yang terdiri dari pemuda-pemuda
berpakaian silat, serta disambut para dara berpakaian adat yang menyuguhkan
sirih.
Mamulangkan Tando
Setelah resmi sebagai suami istri, maka tanda
yang diberikan sebagai ikatan janji sewaktu lamaran dikembalikan oleh kedua
belah pihak.
Malewakan Gala Marapulai
Mengumumkan gelar untuk pengantin pria. Gelar
ini sebagai tanda kehormatan dan kedewasaan yang disandang mempelai pria.
Lazimnya diumumkan langsung oleh ninik mamak kaumnya.
Balantuang Kaniang atau Mengadu Kening
Pasangan mempelai dipimpin oleh para sesepuh
wanita menyentuhkan kening mereka satu sama lain. Kedua mempelai didudukkan
saling berhadapan dan wajah keduanya dipisahkan dengan sebuah kipas, lalu kipas
diturunkan secara perlahan. Setelah itu kening pengantin akan saling
bersentuhan.
Mangaruak Nasi Kuniang
Prosesi ini mengisyaratkan hubungan kerjasama
antara suami isri harus selalu saling menahan diri dan melengkapi. Ritual
diawali dengan kedua pengantin berebut mengambil daging ayam yang tersembunyi
di dalam nasi kuning.
Bamain Coki
Coki adalah permaian tradisional Ranah Minang.
Yakni semacam permainan catur yang dilakukan oleh dua orang, papan permainan
menyerupai halma. Permainan ini bermakna agar kedua mempelai bisa saling
meluluhkan kekakuan dan egonya masing-masing agar tercipta kemesraan.
Seusai Pesta berakhir keluarga itu saling
hidup berbahagia. Dengan sejumlah uang milik Malin,Baginda Sulaiman memulai
usahanya dari awal kembali.
Satu tahun kemudian.
Nurbaya baru baru ini mengetahui bahwa ia
sedang mengandung anak Malin. Betapa senangnya keluarga itu saat mengetahui
kabar gembira ini. Proses adat kembali di mulai.
Upacara Karek Pusek (Kerat pusat) :
Sebetulnya tidak memerlukan upacara yang
khusus pada saat dilakukan pemotongan tali pusat ini, karena merupakan upaya
dari kalangan medis dalam memisahkan pusar bayi dengan placenta ibunya. Belum
diketemukan upacara khusus untuk melakukan hal ini.
3. Upacara Turun Mandi dan Kekah
(Akekah) :
Sering upacara ini dilakukan dengan tradisi
tertentu diantara para ipar – besan dan induk bako dari pihak si Bayi. Induk
Bako – si Bayi akan memberikan sesuatu kepada sang bayi sebagai wujud kasih
sayangnya atas kedatangan bayi itu dalam keluarga muda.
Umumnya Induk bako dan kerabatnya akan
memberikan perhiasan berupa cincin bagi bayi laki-laki atau gelang bagi bayi
perempuan serta pemberian lainnya.
4. Upacara Sunat Rasul :
Apabila seorang anak laki-laki telah cukup
umur dan berkat dorongan kedua orang tuanya, makaseorang anak akan
menjalani khitanan yang di Ranah Minang disebut “ Sunat Rasul.
Sunah rasul mengandung pengharapan dari kedua
orang tuanya agar anak laki-lakinya itu menjadi anak yang dicita-citakan serta
berbakti kepada kedua orang tua.
1. Manjalang guru (menemui guru) untuk
belajar. Orang tua atau mamak menemui guru tempat anak kemenakannya menuntut
ilmu. Apakah guru dibidang agama atau adat. Anak atau keponakannya diserahkan
untuk dididik sampai memperoleh ilmu pengetahuan yang diingini.
2. Balimau. Biasanya murid yang dididik
mandi berlimau dibawah bimbingan gurunya. Upacara ini sebagai perlambang bahwa
anak didiknya dibersihkan lahirnya terlebih dahulu kemudian diisi batinnya
dengan ilmu pengetahuan.
3. Batutue (bertutur) atau bercerita.
Anak didik mendapatkan pengetahuan dengan cara gurunya bercerita. Di dalam
cerita terdapat pengajaran adat dan agama.
4. Mengaji adat istiadat. Didalam
pelajaran ini anak didik mendapat pengetahuan yang berkaitan dengan Tambo Alam
Minangkabau dan Tambo Adat.
5. Baraja tari sewa dan pancak silek
(belajar tari sewa dan pencak silat). Untuk keterampilan dan ilmu beladiri maka
anak didik berguru yang sudah kenamaan.
6. Mangaji halal jo haram (mengaji
halal dengan haram). Pengetahuan ini berkaitan dengan pengajaran agama.
7. Mengaji nan kuriek kundi nan merah
sago, nan baiek budi nan indah baso (mengaji yang kurik kundi nan merah sago,
yang baik budi nan indah baso), pengajaran yang berkaitan dengan adat istiadat
dan moral.
6. Tamat Kaji (khatam Qur’an) :
Biasanya seseorang yang telah menamatkan kaji
(khatam Qur’an), maka terlebih dahulu dilakukan pengujian terhadap kemampuan
membaca itu dihadapan majelis Surau. Seorang akan mendengar kemampuan tajwit
dan makhraj untuk meyakini bahwa seorang anak yang telah menamatkan AlQur’an
itu, telah lulus didalam pengkhataman Al Qur’an nya. Dan di gelar syukuran.
Akhirnya Datuk Maringgih mengetahui hal ini. Betapa geramnya ia
saat mengatahui anak kecil yang berada di depannya adalah anak Siti Nurbaya.
Hal licik kembali datang di pikirannya,ia tak mau melihat kebahagiaan Siti
Nurbaya bersama orang lain.
Maringgih membawakan beberapa makanan kepada keluarga kecil Malin.
Kebetulan sekali hanya ada Malin,Nurbaya dan anaknya.
Maringgih:
“Nurbaya,aku kesini untuk meminta maaf kepadamu atas kesalahanku dimasa lalu…
aku membawakan makanan ini untuk kalian.”
Nurbaya :
“Kau tidak perlu seperti itu,Datuk Maringgih… aku telah memaafkanmu.”
Maringgih
: “Kalian tidak ingin memakan makanan dariku?”
Nurbaya :
“Oh,ya! Aku lupa tentang hal ini…”
Maringgih
: “Malin,izinkan aku menyuapi anakmu. Roti ini bagus untuknya.” (Malin
memberikan anaknya,Maringgih menggendongnya.)
Maringgih menyuapi anak Malin,sedangkan kedua orang tuanya mencicipi
makanan yang lain.
Nurbaya :
“Aku merasa sangat pusing…”
Malin :
“Aku akan mengambil air minum,perutku terasa mual…”
Maringgih menaruh anak Malin ke pangkuan Ibunya,ia berdiri.
Maringgih
: “HaHaHa! Rasakan kalian semua! Makanan yang kalian makan sudah kuberi racun.
Dengar ya,Nurbaya! Karena aku tidak bisa mendapatkanmu,malinpun tidak bisa
mendapatkanmu juga. Aku tidak ingin melihat kebahagiaan kalian semua. Selamat
tinggal!” (Maringgih pergi)
Betapa terkejutnya Bundo dan Baginda Sulaiman melihat ketiga orang
itu terkapar lemas tak beradaya. Mereka sekarang telah tiada,Bundo dan Sulaiman
menangisi kepergihannya.
Akhir kehidupan di dunia adalah kematian. Pada upacara yang
berkaitan dengan kematian tidak terlepas dari upacara yang berkaitan dengan adat
dan yang bernafaskan keagamaan. Acara-acara yang diadakan sebelum dan sesudah
kematian adalah sbb:
1. Sakik basilau, mati bajanguak (sakit
dilihat, mati dijenguk)
2. Anta kapan dari bako (antar kafan dari
bako)
3. Cabiek kapan, mandi maik (mencabik
kafan dan memandikan mayat)
4. Kacang pali (mengantarkan jenazah kek
kuburan)
5. Doa talakin panjang di kuburan
6. Mengaji tiga hari dan memperingati
dengan acara hari ketiga, ketujuh hari, keempat puluh hari, seratus hari dan
malahan yang keseribu hari.
Bundo dan
Baginda Sulaiman menjalani hidup dengan kesedihan.

No comments:
Post a Comment